inilah aku

inilah aku
garut

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 09 Mei 2012

PUISI TERIMA KASIH IBU

Di malam yang dingin
 ku terbangun 
Teringat dirimu yang selalu menemani malamku
Tiba-tiba kerinduan menyeruak dalam hati
Begitu rindunya diri ini kepadamu
Kau selalu menghiasi malamku dengan keindahan
Ku bisa melihat senyummu
Mendengar tawamu
Merasakan kehangatan sentuhan lembut tanganmu

            Malam ini kau tak menemani tidurku
            Dan itu berarti malam ini aku tak bisa merasakan semua itu
            Aku tak bisa tidur sungguh tak bisa

Ah, ibuku sayang
Sedang apa ya Kau sekarang
Malam ini kau tidur di tempat lain
Semoga Engkau malam ini bisa tidur pulas
Dan semoga Kau bisa merasakan kerinduan anakmu ini

            Ibu, aku sayang sekali dengan dirimu
            Engkau adalah penyemangat dalam hidupku
            Ku tak peduli apa kata orang
            Ku tak peduli cemoohan orang
            Karena bagiku itu hanya sebuah angin lalu
            Yang tak berarti apa-apa

Ibu, cepat pulang ya
Aku ingin mengukir cerita indah di setiap hari dengan dirimu
Aku ingin kita kembali bercerita
Aku ingin menatap kembali wajahmu
Yang begitu menyejukkan hati

            Ibu, terima kasih atas semuanya
            Engkau telah memilih diri ini tuk menemani hari-hari tuamu
            Walau banyak yang lain, kau tetap memilihku
ku tak tahu apa alasanmu
yang ku tahu kini Kau telah bersamaku

Ibu, maafkan aku karena aku belum bisa membahagiakanmu
Tapi ku kan berusaha terus agar aku bisa membuatmu bahagia

            Ibu, tetaplah tersenyum
            Karena senyummu dapat menghilangkan kesedihan dan kegundahan di hati
            Dan senyummu itu merupakan vitamin untukku
            Agar ku kuat menghadapi hidup yang penuh kepedihan
            Terima kasih ibu karena kau telah menghiasi hari-hariku dengan warna indah


Selasa, 08 Mei 2012

PUISI KARDUS KECIL

PERSAHABATAN  ABADI

Kau memang hanya sebuah kardus kecil
Bagi sebagian orang kau dipandang hanya sebelah mata
Tapi bagiku, kau adalah sempurna
Kau mampu menjadi teman terbaikku
Kau tampung semua masalah yang selalu mengelilingiku
Kau melindungiku di kala matarahari menyengat
Kau melindungi di kala hujan mengguyur
Walau tubuhmu tak kuat menahan derasnya air hujan
Tapi kau terus berusaha melindungiku
Terima kasih atas semua yang kau lakukan untukku
Terima kasih atas persahabatan tulus yang kau berikan untukku
Ku tak tahu seperti apa aku jika tak memiliki sahabat sepertimu
Ku tak tahu mampukah aku menghadapi  semua itu tanpa dirimu
Alangkah meruginya orang-orang yang menganggap dirimu kecil
Andai saja mereka mengetahui ketulusan dan pengorbananmu
Tentu mereka juga ingin bersahabat denganmu
Sungguh aku merasa aku adalah orang yang sangat beruntung
Aku adalah orang yang sangat bahagia
Karena hari-hariku ku lalui bersama sahabat sepertimu
Dulu, ku tak pernah menemukan ketulusan dalam diri siapapun yang menemaniku
Mereka hanya ingin mempermainkan diriku
Mereka hanya ingin memanfaatkan diriku
Semua itu mereka lakukan karena diriku sedang berada di atas
Tapi ketika ku terjatuh, tak seorangpun dari mereka yang membantuku tuk bangun kembali
Hanya engkau ya hanya engkau
Sahabat yang kudapatkan di pinggiran jalan
Namun bagiku kau adalah berlian
Tak ada satupun yang mampu mengalahkan ketulusan hatimu
Sahabat, semoga persahabatan kita ini kan terus terjalin
Sampai akhir hayat memisahkan kita
Itu adalah doaku, harapanku, keinginan besar dalam hidupku
Namun kini itu hanya sebuah harapan semu
Kini kau telah pergi menjauh
Pergi meninggalkan diriku
Sahabat, walau kini kau telah tiada
Namun, kau tak pernah hilang dalam kehidupanku
Tawamu, candamu, kata-kata indahmu kan selalu menemani hari-hariku
Sahabat, semoga kau bahagia di sana
Tersenyumlah selalu untukku
Walau ku tak bisa melihat senyummu lagi namun ku bisa merasakan itu
Sahabat semoga kita nanti kan bertemu kembali dalam ruang kehidupan abadi

DRAMA LUCU

Di sebuah ruang pikiran seorang siswa, sedang terjadi sebuah dialog antara dua sahabat, niat baik dan niat buruk.
Niat baik              : Duuuuh, UAS sebentar lagi ni...aku harus belajar dengan ekstra biar nilaiku tidak jelek lagi seperti pada semester satu. Aku ingin menjadi yang terbaik. Pokoknya aku harus bisa, SEMANGAT!! (sambil menggenggam tangan dan mengangkatnya)
Niat buruk           : haduuuuuuuuuuh, kenapa temanku yang satu ini, ya?
Niat baik              : aku yang Kamu maksud? Memang ada apa dengan aku? (kebingungan)
Niat buruk           : ya iyalah Kamu. Kamu ngga inget ya? Waktu semester satu, Kamu sudah belajar sampai mati-matian tuk menjadi yang terbaik tapi tetep aja...tidak bisa. Kamu tahu tidak kalau temanmu yang menjadi terbaik waktu semester satu itu disebabkan karena dia mengikuti saranku. Nah, sekarang inikan sudah memasuki semester dua, Kamu tentunya tidak mau tertinggal kelas kan? Gunakan saja sarannku, pasti jitu deh.

Niat baik              : aku inget ko tapi aku tidak kecewa karena nilai itu ku dapat dari hasil usahaku sendiri. Oh, ya, memangnya Kamu punya saran apa si untukku?
Niat buruk           : hmmm...kira-kira Kamu pasti mengikuti saranku tidak?
Niat baik              : tergantung atuh. Kalau itu baik untukku, kenapa tidak kulakukan, iya khaaaaaaan (ala Syahrini)
Niat buruk           : oooooooooh, kalau soal itu tidak usah khawatir, saranku ini bukan hanya baik tapi terbaik untukmu. Begini, dulu Kamu kan mengisi semua soal ujian hanya dengan bantuan dirimu sendirikan? Nah, sekarang biar nilai Kamu bagus, Kamu bisa menjadi yang terbaik, bagaimana Kalau saat mengerjakan ujian kau membawa bantuan, setujukan?
Niat baik              : Maksud Kamu aku nyontek gitu? Oh, tidak. Aku tidak mau..(dengan nada tinggi)
Niat buruk           : pertimbangkan dulu. Lagipula saranku ini jitu. Kan Kamu sudah melihat buktinya. Itu loh, yang kemarin mendapat ranking satu. Dia kan pakai bantuan.
Niat baik              : aku rasa aku tidak perlu mempertimbangkan itu. Keputusanku sudah final. Aku tidak mau dibantu. Aku ingin mengerjakan dengan segenap kemampuanku dan aku yakin, Allah akan memberikan aku kemudahan.
Niat buruk           : sombong sekali Kamu ini. Memangnya apa yang Kamu dapatkan dengan keputusanmu itu? Norak Kamu...
Niat baik              : banyak hal yang kudapat ada ketenangan jiwa, kepuasan batin, dan pastinya aku tidak terperangkap dalam dosa. ingat sahabat, jangan Kau tambah dosamu itu nanti kan memperburuk nasibmu di akhirat kelak.
Niat buruk           : ah, dasar orang bodoh. Kalau Kamu tidak mau mengikuti saranku, ya sudah tapi jangan mengguruiku. Aku tidak suka. Ingat, Kamu pasti tidak akan bisa menjadi yang terbaik jika pemikiranmu masih seperti  itu.
Niat baik              : Bodoh di mata Kamu itu tidak masalah. Aku tidak menggurui Cuma sebagai sahabat, aku tidak mau kau terus melakukan hal negatif yang kan berdampak buruk bagi dirimu. Maaf jika kamu tidak suka tapi sungguh bukan itu maksudku. Aku akan buktikan kepadamu bahwa dengan usaha keras, kegigihan, dan doa aku pasti bisa mendapatkan pertolongan yang akan mampu menjadikan aku yang terbaik seperti yang selama ini aku inginkan. Namun, pertolongan yang ku maksud adalah pertolongan dari Allah. Yakinlah, dengan pertolongan Allah tak ada suatu hal yang mustahil.
Niat buruk           : Ah, terserah Kamu..(sambil pergi menghilang entah kemana)
Niat baik              : (tersenyum sambil bersyukur karena tak terperangkap dengan rayuan si niat buruk)
TERUSLAH MEMACU DIRI TUK MENGGAPAI KESUKSESAN


CURHAT EUY..


                                                            30 April 2012                          13:00
            Hari ini adalah hari pertama aku menginjakkan kaki di SDIT Ar-Raudhoh. Sudah setahun aku tak ikut berkecimpung untuk mengisi pelajaran bahasa Indonesia. Selama ini aku hanya bertugas membuat modul bahasa Indonesia saja karena kalau mengajar, aku harus bangun pagi-pagi sekali sedangkan tugasku kalau pagi itu sedikit tapi membutuhkan waktu lama, memandikan dan menyuapi ibu serta kalau masih ada waktu aku menyapu rumah terlebih dahulu.
            Kemarin tepatnya tanggal 21 April aku dihubungi oleh pihak bimbel di tempatku bekerja mereka meminta aku untuk mengisi intensif dan mereka juga memberikan tanggal yang sudah mereka persiapkan. Aku lalu menyanggupi hanya tiga hari, senin, rabu, dan kamis. Sekarang hari Senin, hari pertama ku mengajar. Aku melihat jadwalku selama tiga hari itu hanya di kelas B2 dan E saja. Aku sudah yakin itu pasti kelas yang sangat sangat luar biasa. Dan ternyata dugaanku benar. Menurut MM, dua kelas itu adalah kelas yang sangat berisik. Di B, jumlahnya ada 12, 9 laki-laki dan 3 perempuan, waduuuuuuuuh..belum selesai aku membayangkan kelas B, MM melanjutkan ceritanya bahwa di kelas E, itu lebih menyebalkan. Duh, kepalaku jadi pusing membayangkan nanti ketika aku sudah berhadapan dengan anak-anak. Aku lalu menarik napas dalam-dalam biar aku tidak stress duluan hehhe...
            Tepat pukul 7:45 aku dan MM sampai di SDIT AR. Di sana aku bertemu dengan MN dan MT. Aku baru tahu itu MT karena MM yang memberitahukan aku. Ketika melihat MN, sepertinya aku merasa dia kurang suka dengan kedatanganku dan ternyata fillingku benar. Ketika melihat kedatanganku ternyata jadwal menjadi amburadul. Jadwal yang dikirimkan kepadaku ternyata berbeda dengan jadwal yang dikirimkan ke guru-guru lain. Ternyata hari itu di jadwalnya MN dan yang lain namaku tidak ada. Aku jadi bingung. MN lalu menelpon PR yang mengatur jadwal. Ternyata kata PR jadwal aku yang benar. Di sana ternyat MT, guru bahasa Indonesia, hanya 1 sesi. Mendengar penjelasan PR, MN kesal. aku lalu menyarankan MT untuk mengisi di sesi kedua tapi beliau tidak mau. Beliau lebih memilih untuk pulang. MT si sepertinya biasa saja cuma MNnya aja yang agak bete kepadaku. Aku bisa memahami itu. Jam 8:10 bel berbunyi dan itu berarti kami harus masuk ke kelas. Ternyata B itu dibagi dua, B1 dan B2. Gurunya aku dan Mba Tyas. Ketika kami ingin beranjak dari tempat duduk, tiba-tiba MN ditelpon seseorang dan ternyata dari PR. Kata PR, untuk sesi kedua, aku mengajar bersama MT lagi karena kelompok E adalah kelompok ekstra. Aku senang sekali karena MT mau menemani aku di sesi kedua.
            Masuk di sesi pertama ternyata aku mengajar anak laki-laki yang berjumlah 9 orang. Begitu melihat aku, mereka terus menatap aku dan aku senyum aja coz grogi juga karena ada MT. Dari 9 orang ada dua anak yang serius mengerjakan soal. Ketika anak-anak sedang mengerjakan soal, MT memperkenalkan aku sebagai pembuat modul Bindo. Sesi kedua, di E kelompok terbandel, terekstra, begitu kata guru-guru yang mengajar mereka. Tapi setelah masuk ke E, ternyata aku memiliki pendapat yang berbeda terutama dengan anak yang namanya Farel. Menurut MT, aku harus hati-hati karena mamanya Farel itu vokal sekali dan Farel juga sering membuat emosi guru. Guru di sekolahnya sudah angkat tangan melihat kenakalan Farel dan begitu juga denga teman-temanku yang mengajar Farel. Menurut aku, antara kelas B dan E, aku lebih suka dengan kelas E karena mereka semua mengerjakan soal ya.. walaupun sambil bercanda tapi bagiku jika itu adalah hiburan agar mereka tidak jenuh, aku tidak menganggap itu suatu hal serius. Jadi aku biarkan saja mereka mengerjakan soal sambil diselingi bercanda dan yang membuatku heran aku tidak melihat sama sekali kenakalan Farel. Ketika melihat aku, dia terus menatapku dan aku hanya tersenyum. Dan yang membuatku tambah bahagia ada anak bernama Fadil dia itu nempeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeel terus ke aku. Ketika mereka sudah selesai lalu kami mengoreksi bersama. MT bertugas menjaga anak-anak sedangkan aku bertugas menjawab plus menambahkan pertanyaan plus menjelaskan jika ada yang belum mereka paham. Selama pembahasan, farel selalu menjawab dengan serius dan benar. Akhirnya dari hasil yang didapat, Farel mendapat nilai 96. Wah, ternyata...anak yang selama ini katanya sangat galak, judes, tukang ngadu itu menurut aku justru kebalikannya dia sangat menyenangkan. Terima kasih ya Farel karena hari ini aku mendapat pelajaran bahwa sekeras-kerasnya watak manusia namun masih bisa dilunakkan dengan kelembutan.
            Hari Rabu aku tidak masuk karena aku dan MT sama-sama 1 sesi. Daripada cuma 1 sesi, lebih baik jadwalku aku berikan ke MT karena kasihan kalau MT Cuma 1 sesi dan aku juga sebenarnya ngga enak aja takut MN bete lagi sama aku. Capcay deeeeeeeeeh..
            Hari Kamis, aku kembali berangkat yaaaaaaaaa walaupun tanpa MM karena saat ini MM sedang dipingit maklum sabtunya mau nikah cuuuuuuuuuuuuuy, ALHAMDULILLAH YA SESUATU HEHE...
            Dan seperti biasa, MN kaget lagi begitu melihat aku untungnya jantungya ngga copot ya hhehe... menurut MN yang mengajar Kamis itu mendapat sms dari PR sedangkan aku tidak. Jadwalku dan MT bentrok akhirnya aku dan MN mengajar di kelas B sedangkan MT dan MA mengajar di kelas E. Aku agak bete si ketika harus mengajar dengan MN. Tapi beteku menjadi hilang begitu melihat anak-anak B ingin aku yang mengajar mereka. ternyataaa...aku baru nyadar pesonaku meruntuhkan hati anak-anak B. Alhamdulillah euy... pede dikit euy...^^
            Sesi kedua aku mengajar di E dan kulihat Farel begitu semangat begitu melihat aku datang. Di sesi ini aku mengajar dengan PM. Ketika sedang mengerjakan soal, farel bilang bahwa ia ingin mendapatkan hadiah dan uang Rp2.000. aku lalu menyanggupi tapi ternyata, harapan itu tak terwujud nilai farel 68 dan yang tertinggi Ilham. Ku lihat raut kekecewaan di wajah farel. Pukul 11.30 kami selesai lalu setelah anak-anak membaca doa, satu per satu mereka keluar lalu aku mendekati farel dan ku mencoba tuk menyemangatinya lagi. sambil memegang bahunya, aku berkata, “farel, kakak tunggu ya nilai terbaikmu kembali. Jangan patah semangat, ayo, buktikan nanti di UASBN itu Kamu harus mampu membuktikan Kamu memang layak menjadi yang terbaik.” Farel lalu tersenyum. Duuuuuuuuuh aku senang sekali. terima kasih ya Rel, Kamu memang anak yang hebat.
            Untuk adik-adikku di AR semoga kalian lulus ya n mendapatkan nilai terbaik. amiiiiiiiiin

Rabu, 02 Mei 2012

PUISI

LELAH


Lelah aku menjalani ini semua
tanpa dirimu.
Sejak kepergianmu,
ku berjalan seorang diri
di atas tajamnya kerikil
serta dihujani kata2 yg sangat menusuk hati.
kini
aku sangat terluka.
tapi demi dirimu,
aku coba membalut luka ini dengan keikhlasan.
tapi ...
Semakin kucoba tuk ikhlas,
hatiku semakin terluka
ayah ...
Aku sangat lelah
menghadapi semua ini seorang diri.
andai kau masih ada di sini, pasti
tak kan ada seorangpun yg menyakitiku.

CERPEN KARENA CINTA


            Mama masih saja menangis bila teringat uang yang telah diambil oleh kakakku, Lisma. Mama heran plus sedih melihat perubahan kakakku itu. Dulu, Teh Lisma baik dan tidak berkuasa seperti itu. Tapi, setelah ayah meninggal, sikap Teh Lisma 1800 berubah. Selama ini, kami berempat (mama, Mas Ario, Mas Rio, dan aku) tidak begitu menyadari perubahan itu. Kami baru menyadari setelah salah seorang tetangga menjumpai mama dan mengatakan bahwa Teh Lisma mengatakan bahwa selama ini, hidup kami, dia yang menanggung. Dia menghidupi kami, dari hasil keringatnya sebagai guru private. Mama hanya mengelus dada mendengar semua itu.
            Kemarin, mama dan Mas Ario pergi ke rumah kontrakan kami di Cakung. Mama berniat mengambil uang kontrakan tapi alangkah terkejutnya mereka, uang kontrakan selama satu tahun sudah diambil semua oleh Teh Lisma. Kebetulan di Cakung, mama mempunyai dua puluh kontrakan dan semua uangnya sudah habis diambil Teh Lisma. Padahal, uang itu untuk membiayai Mas Rio dan Mas Ario S2,  sekolahku, dan untuk kebutuhan sehari-hari.
            Setelah kejadian itu, kami baru menyadari ada sesuatu yang telah berubah. Dulu kami semua saling menyayangi dan mengasihi. Tidak ada seorangpun diantara kami berempat yang merasa “paling” diantara yang lain. Mas Ario pun, kakak tertuaku, tidak pernah bersikap sebagai penguasa. Awalnya aku berfikir, mungkin hanya aku yang merasa takut bila berhadapan dengan Teh Lisma tapi ternyata ketika kami semua dikumpulkan untuk membahas uang tersebut, tidak ada seorangpun yang mampu membantah ucapannya bahkan mama sekalipun. Kami seperti orang bodoh yang siap disetir olehnya. Dalam hati, kami menolak tapi entah kenapa kami semua merasakan ketakutan ketika ingin menolaknya.
►◄
“Ma, apakah Mama sedang sibuk?”
“Tidak, kenapa Ario?” kata mama sambil memandang wajah Ario.
‘Ma, Ario kan S2 sudah selesai, pekerjaan, alhamdulillah sudah dapat. Dan Ario fikir, lebih baik Ario segera menikah dan kebetulan Ario sudah punya calon yang ingin Ario perkenalkan kepada Mama. Apakah Mama ada waktu untuk bertemu dengannya?”
            “Tentu saja ada, Ario. Bagaimana kalau kita adakan pertemuan itu,  malam minggu besok. Kebetulan kita kan mau merayakan ulang tahun Safna. Nanti kan semua keluarga kita undang jadi Kamu bisa sekalian memperkenalkan sekaligus meminangnya.”
            “Berarti oragtuanya juga harus datang dong, Ma.”
            “Pasti dong sayang. Soal cincin, Kamu ga usah khawatir. Mama sudah sejak lama mempersiapkannya untuk Kamu dan Rio. Untuk seserahan yang lain, nanti bisa kita pakai uang dari kontrakan. Jadi, masalah uang, Kamu tidak perlu khawatir. Mama hanya mampu membiayai sampai di situ saja. Untuk kehidupanmu nanti, itu sudah menjadi tanggung jawabmu sebagai seorang suami.”
            “Terima kasih ya, Ma. Aku bangga sekali memiliki Mama. Aku janji akan menjadi suami yang bertanggung jawab seperti ayah dulu.” Mas Ario lalu memeluk mama. Melihat semua itu, aku sampai menitikkan air mata. Aku berharap apa yang Mas Ario niatkan dimudahkan oleh Allah.
►◄
            Hari ini, seharusnya menjadi hari yang membahagiakan bagi aku, khususnya dan bagi keluarga aku, umumnya. Tapi, tak ku sangka, justru hari ini adalah hari duka yang mendalam bagi kami sekeluarga. Mas Ario yang rencananya akan melangsungkan lamaran di saat pesta ulang tahunku, kini dia terbaring di ruang ICU. Mas Ario, syok ketika mendengar semua kontrakan di Cakung telah terjual. Dan penjualnya adalah adik kandungnya sendiri, Teh Lisma. Padahal kontrakan-kontrakan itu adalah aset keluarga kami yang paling besar tapi kini, semua itu telah habis terjual. Aku begitu sedih melihat mama terus duduk di samping Mas Ario. Mama hanya shalat, membaca al-Quran, dan membaca shalawat untuk kesembuhan Mas Ario. Aku tahu, hati mama pasti sakit dan sedih sekali melihat Teh Lisma seperti itu. Tapi aku yakin, semarah-marahnya mama, mama tidak akan tega mengusir Teh Lisma dari rumah.
►◄
            Lima hari lamanya Mas Ario di rumah sakit dan selama itu pula, tidak sekejap pun Mas Ario membuka matanya. Kami bertiga kecuali Teh Lisma, berkumpul di samping Mas Ario. Kami berharap, Mas Ario segera sadar. Ketika kami sedang membacakan surat Yasin, tiba-tiba tangan Mas Ario bergerak perlahan-lahan dan subhanallah, matanya pun terbuka perlahan-lahan. Kami lalu berdiri sambil memandang wajah Mas Ario. Mas Ario akhirnya sadar dari komanya. Ketika kami sedang merasakan kegembiraan, tiba-tiba Mas Ario mengucapkan kata ‘Maaf’ dan mengucapkan dua kalimat syahadat dengan terbata-bata. Selesai mengucapkan dua kalimat syahadat, mata Mas Ario terpejam kembali dan innalillahi wainna ilaihi roji’un, seluruh tubuh Mas Ario berubah menjadi dingin. Wajahnya tampak tersenyum dan putih bersih. Mama jatuh pingsan dan aku pun tak kuasa menahan tangis. Tak lama kemudian, aku pun jatuh pingsan.
            Ketika siuman, aku melihat Mas Rio berada di sampingku. Sambil menangis, Mas Rio membelai rambutku dan menciumi pipiku. Aku merasakan sesuatu yang lain telah terjadi. Aku teringat mama lalu aku mencoba bangun dan memanggil mama.
            “Mama...Mama...Mama...dimana mama, Mas? Ayo jawab!!!!!
            Kugucangkan tubuh Mas Rio namun, dia tetaap membisu dan semakin kuguncangkan tubuhnya, semakin kencang pula suara tangisnya. Melihat itu, aku semakin yakin, ada sesuatu yang telah terjadi. Mas Rio lalu memelukku.
            “Safna mau ketemu mama, Mas, Safna mau ketemu..tolong kasih tahu Safna, dimana mama.”
            “Sabar sayang, nanti mas akan anter Kamu menemui mama tapi sekarang Kamu belum boleh pulang. Kata dokter, besok Kamu baru boleh pulang jadi besok mas baru bisa anter Kamu menemui mama. Sabar ya adik kecilku.”
            “Tapi mama tidak apa-apa kan, Mas?”
            “Tidak adik kecilku. Sekarang Kamu tidur ya. Mas akan temani Kamu, ya sayang.”
►◄
            “Asyiiiik, hari ini Safna sudah boleh pulangkan? Berarti Safna akan bertemu mama, du....h senengnya.” Mas Rio hanya tersenyum mendengar ucapanku dan aku tidak perduli dengan tingkahnya itu. Ketika kami sedang bersiap-siap, tiba-tiba pintu kamar rumah sakit ada yang mengetuk. Itu pasti mama, fikirku. Aku langsung lari dan membuka pintu sambil memanggil mama. Ketika pintu terbuka, aku tidak melihat mama dan di hadapanku hanya ada seorang wanita cantik berjilbab biru dan tampaknya aku mengenalnya. Setelah agak lama memandangnya, aku lalu berteriak sambil memeluknya.
            “Kak Zahraaa........Safna kangeeeeeeeeen banget sama kakak. Ko, kakak tahu kalau Safna sakit?”
            Kak Zahra hanya tersenyum sambil melirik Mas Rio. Mereka saling bertatapan. Aku senang sekali melihat mereka seperti itu. Selama ini, aku selalu berdo’a agar Kak Zahra dan Mas Rio dipersatukan menjadi suami istri. Awalnya, aku ingin mengenalkan kepada Mas Ario tapi ternyata Mas Ari sudah punya jadi aku batal mengenalkan Kak Zahra, kakak angkatku di tempat kuliah. Setelah itu, aku ingin mengenalkan kepada Mas Rio tapi karena Mas Rio selalu cemberut bila kusebut nama Kak Zahra, akhirnya aku tidak berani melanjutkan keinginanku. Aku hanya berdo’a smoga mereka berjodoh. Dan hari ini, aku yakin, begitu melihat mereka bertatapan, pasti mereka sudah pacaran. Dalam hati aku bersyukur karena do’aku selama ini telah diijabah oleh Allah. Terima kasih Ya Allah.
            Ketika aku sedang tersenyum sendiri, tiba-tiba...
            “Aw...sakit tau...” kataku sambil cemberut ketika Mas Rio mencubitku.
            “Mas Rio dah jadian ya sama Kak Zahra? Ayo, ngaku....” dulu marah-marah kalau Safna sebut nama Kak Zahra tapi ternyata dalam hati, suka. Kenapa ngga ngaku aja si...cappe deh...plis deh ah...males deh ah....hhe...tapi Safna seneng ko karena do’a Safna terkabul.”
            “Siapa yang pacaran? Kita berdua tidak pacaran tuh..” kata Mas Rio sambil menatap Kak Zahra.
            “Tapi ko, Mas Rio dan Kak Zahra ada di sini bersamaan trus saling senyum-senyum gitu deh. Jangan bohong dong, Mas!”
            “Kita memang tidak pacaran sayang...”
            Aku lalu terdiam dan cemberut. Ketika melihat aku seperti itu, Mas Rio dan Kak Zahra saling bertatapan lalu..
            “Kami tidak pacaran tapi, kami sudah menjadi suami istri, hhehe...” terima kasih ya adik kecilku, berat do’amu, kami dipertemukan.” Mas Rio lalu memelukku dan Kak Zahra pun ikut memelukku. Walau kesal karena dibohongi tapi semua itu hilang dengan berita yang baru aku dengar dari mulut mereka.
            “sekarang waktunya kita pulang, yuk! Kamu senangkan Safna?” Kata Kak Zahra
            “Pasti dong, Kak! Ada tiga hal yang membuat Safna senang hari ini. Pertama, Safna akan keluar dari rumah sakit ini. Kedua, Mas Rio dan Kak Zahra telah berjodoh, dan yang terakhir, ini yang paling penting, Safna akan bertemu mama. Nanti kalau sudah bertemu, Safna akan peluk mama sampai rindu Safna ini hilang.”
            Mas Rio dan Kak Zahra hanya tersenyum dan mereka terdiam membisu.
►◄
            Semenjak keluar dari rumah sakit tadi, ada keanehan yang terjadi. Mas Rio tampak menangis dan ketika aku tanya, beliau bilang matanya terkena kukunya yang panjang. Sebenarnya aku tidak percaya tapi aku tidak mau memperpanjang masalah itu. Aku terus memandangi jalan menuju rumahku. Rasanya, sudah lama aku melihat semua jalan itu. Setelah agak lama melihat pemandangan, mataku terasa mengantuk dan akhirnya aku tertidur di pangkuan Kak Zahra.
            Ketika sedang bermimpi indah, aku dibangunkan oleh Kak Zahra. Aku lalu bangun dan melihat keadaan sekitar begitu asing bagiku. Ketika aku sedang memperhatikan tempat tersebut, aku melihat ada bacaan di depan pintu masuk “TEMPAT PEMAKAMAN UMUM”
Aku kaget dan aku langsung membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam TPU tersebut. Di sana, aku melihat-lihat kuburan yang masih baru. Setelah lima belas menit, aku menemukan sebuah batu nisan bertuliskan nama “ARIO PUTRA SASTRAWAN.” Itu nama Mas Ario, kakak pertamaku. Aku menangis menatap makam tersebut. Ketika aku melihat ke sebelah kanan makam Mas Ario, aku melihat ada batu nisan bertuliskan nama “FIRNA HARTONO SASTRAWAN” Aku terus menatap nama itu. Antara percaya dan tidak, aku merasa itu adalah nama ibuku. Dan jika benar, berarti...
            “Kamu benar, Safna. Itu adalah makam ibu. Ma’afkan kami berdua karena kami telah membohongimu. Kami hanya tidak ingin Kamu jadi bertambah parah sakitnya. Sekarang ini, kami hanya memiliki Kamu, Safna.” Kata Mas Rio sambil memelukku.
            Aku diam seribu bahasa. Aku tidak percaya dengan semua yang kuhadapi sekarang. Aku hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Setelah aku mulai tenang, Mas Rio menceritakan bahwa mama menghembuskan nafas terakhirnya bersamaan dengan meninggalnya Mas Ario. Waktu itu, mama dan aku jatuh pingsan. Aku sempat koma dan mama tidak sadarkan diri untuk selama-lamanya. Setelah bercerita panjang lebar, Mas Rio mengajak aku untuk memanjatkan doa agar almarhumah mama dan almarhum Mas Ario tenang di sana dan mendapatkan tempat yang paling mulia di sisi-Nya. Amiin
      ►◄
            Satu bulan telah berlalu. Kini, aku tinggal hanya bertiga, Mas Rio, Kak Zahra, dan aku. Teh Lisma? Aku tak tahu. Selama ini, aku belum berani menanyakan keberadaan Teh Lisma. Mas Rio begitu marah ketika nama Teh Lisma disebut. Aku tahu Mas Rio seperti itu karena memang semua musibah berawal dari Teh Lisma jadi wajar jika Mas Rio menaruh benci yang mendalam seperti itu. Aku juga sebenarnya menaruh kebencian kepada Teh Lisma tapi kebencian itu kini telah hilang dan berganti dengan rasa kasihan. Kak Zahra selalu menasihati aku untuk tidak menaruh dendam dengan siapa pun dan aku disuruh untuk bersyukur karena sifat Teh Lisma tidak ada dalam diriku.aku beryukur, berkat kesabaran kak Zahra, akhirnya aku bisa menerima semua musibah itu dengan ikhlas.
►◄
            Ketika aku sedang mengobrol dengan Firda, teman kuliahku, Kak Zahra menemuiku. Kami lalu pulang bersama dan Kak Zahra mengajakku ke suatu tempat. Di tempat itu, Kak Zahra memberitahukan keadaan Teh Lisma. Aku sedih sekali mendengarnya. Sejahat apapun Teh Lisma, dia tetap kakakku. Kini, Teh Lisma sangat menderita hidupnya. Dulu dia berubah seperti itu ternyata hanya gara-gara cowok yang sangat dia cintai terus merongrong dirinya untuk memenuhi kebutuhan materinya. Jika Teh Lisma tidak menuruti, ia akan ditinggalkan. Cinta memang buta. Demi orang yang dia cintai, Teh Lisma mampu berbuat hal yang menyakiti hati keluarga. Kini, menurut Kak Zahra, Teh Lisma tinggal bersama cowoknya itu dalam stu rumah tanpa ikatan pernikahan dan yang membuat aku sedih, di rumah itu, cowoknya selalu membawa cewek lain. Astaghfirullah. Andai saja aku bisa menyakinkan Teh Lisma untuk meninggalkan cowok itu. Tapi kata Kak Zahra, Teh Lisma seperti orang yang kena guna-guna. Tak ada sedikitpun penyesalan dalam dirinya ketika tahu Kak Ario dan mama meninggal dunia. Ketika pemakaman pun, Teh Lisma tidak hadir. Dari situlah, Mas Rio marah besar kepadanya.
            Setelah puas berbicara dengan Kak zahra, aku dan Kak Zahra pulang ke rumah tapi dengan taksi yang berbeda. Kami khawatir, jika melihat kami pulang berdua, Mas Rio jadi curiga.
            Ketika makan malam, aku tidak bisa menghilangkan fikiranku tentang Teh Lisma. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Siapa tahu, setelah bertemu dan  berbicara empat mata dengannya, hatinya mulai terbuka. Besok kebetulan libur dua hari dan saatnya aku melaksanakan niatku ini. Aku berniat untuk meminta izin kepada Kak Zahra saja tapi setelah ku pertimbangkan lagi, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat saja tanpa meminta izin terlebih dahulu karena aku yakin, Kak zahra tidak berani memberikan izin untukku.
            Sebelum tidur, aku tidak lupa memasang jam beker pukul 4.00. Biasanya Mas Rio dan Kak Zahra selalu membangunkan aku pada pukul 05.00. aku ingin keluar rumah pukul 04.30. aku lalu mempersiapkan mukena untuk shalat subuh di Masjid.
►◄
            Alhamdulillah, semua rencanaku sampai saat ini lancar. Kini aku sudah berada di bis jurusan Kampung Rambutan. Pukul 06.10 aku sudah sampai di Pasar Rebo. Aku lalu turun di sana. Menurut Kak Zahra, Teh Lisma tinggal di sekitar situ. Rumahnya di dekat sebuah Musholla. Dari jalan raya jalan ke arah kanan, lurus, lalu ada turunan. Di sekitar situlah Teh Lisma tinggal. Aku lalu menelusuri jalan itu. Dan ketika sudah sampai di dekat Mushalla, aku tidak melihat sebuah rumah yang berwarna putih. Di dekat Mushalla ada gang kecil. Karena tidak ada orang, akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke gang tersebut. Feelingku benar. Rumah yang kucari ada di belakang Mushalla. hampir semua rumah di situ tidak layak pakai tapi ada satu rumah, bercat putih, walau kecil tapi terlihat masih baru. Aku yakin, Teh Lisma tinggal di situ. Aku lalu mendekati rumah itu. Walau ada rasa takut dan ragu, akhirnya aku memberanikan diri mengetuk rumah tersebut. Lima menit kemudian, pintu rumah itu dibuka dan kulihat seorang laki-laki berwajah lumayan ganteng, putih, menatapku heran. Dia lalu menanyakan tujuanku. Ketika aku menyebut nama Teh Lisma, dia lalu tersenyum dan mengajakku untuk masuk ke dalam rumahnya. Awalnya aku tidak mau tapi karena dia mengatakan bahwa Teh Lisma sedang sakit dan tidak bisa bangun, akhirnya aku masuk ke dalam. Dia lalu mengajakku ke kamar untuk melihat teh Lisma.
            Di dalam, aku tidak melihat Teh Lisma. aku mulai curiga. Ketika aku sadar telah dibohongi, aku berniat untuk keluar dari kamar tersebut. Tapi, tiba-tiba laki-laki itu memegang tanganku dengan kasar. Aku berontak tapi tenaga orang itu kuat sekali. Aku lalu didorong ke atas ranjang. Aku terjatuh. Orang itu lalu berniat memperkosaku. Ketika orang itu ingin melaksanakan niatnya, Mas Rio memukul kepalanya dari belakang. Dia pingsan seketika. Aku lalu memeluk Kak Zahra dan menangis sekencang-kencangnya.
Aku berterima kasih kepada Mas Rio dan Kak Zahra karena telah menyelamatkan diriku dari niat jahat orang tersebut di saat yag tepat. Waktu itu, aku fikir Mas Rio dan Kak Zahra tidak tahu tentang kepergianku tapi ternyata, Mas Rio sudah memperhatikan gelagatku sejak makan malam. Mereka lalu mengikutiku dari rumah sampai tempat tersebut.  Aku juga bersyukur kepada Allah, karena-Nyalah diri ini bisa selamat.
            Setelah diinterogasi disertai pukulan dari Mas Rio, akhirnya laki-laki itu memberitahukan keberadaan Teh Lisma. setelah mendapat informasi tersebut, laki-laki itu dibawa ke kantor polisi dan ditahan untuk jangka waktu yang panjang.
            Dengan bantuan polisi, kami menyusuri tempat yang telah disebutkan oleh laki-laki tersebut. Tempatnya seperti di hutan. Begitu seram dan tidak ada seorangpun manusia yang kujumpai di tempat ini. Setelah berjam-jam menyusuri jalan tersebut, akhirnya, kami menemukan sebuah gubug. Tampaknya tidak berpenghuni karena pintunya terbuka dan tidak ada suara orang. Kami lalu masuk dan kami tidak menemukan siapa-siapa di dalam. Mas Rio menyangka laki-laki itu telah membohonginya tapi entah kenapa aku yakin Teh Lisma ada di tempat itu. Mataku terus mencari keberadaan Teh Lisma. Ketika kami sudah merasa lelah mencari dan tidak menemukan Teh Lisma, akhirnya Mas Rio dan Pak Polisi sepakat untuk menghentikan pencarian. Mendengar itu, aku lalu berlari kebelakang gubug untuk memastikan keberadaan Teh Lisma sekali lagi. Tanpa sengaja, kakiku menginjak sebuah papan yang tertutup dedaunan. Aku merasa aneh sepertinya ada sesuatu di balik papan tersebut lalu tergelitik untuk memeriksa papan tersebut. Setelah aku singkirkan dedaunan yang ada di atasnya, aku temukan pada ujung papan tersebut seperti ada sebuah pegangan untuk membuka papan itu. Aku lalu mengangkat pegangan tersebut dan alangkah terkejutnya diriku melihat sesosok tubuh di dalam lubang yang tertutup papan tadi. Hatiku berkecamuk, siapakah gerangan sesosok mayat di hadapanku ini?????? Aku seperti mengenali sosok tersebut, dan aku berharap, itu bukan Teh Lisma. kemudian aku beranikan diri untuk mendongakkan wajah mayat tersebut dan aku syok begitu melihat wajah di hadapanku.....
            Aku terduduk lemas kemudian menjerit histeris begitu menyadari kalau mayat itu adalah Teh Lisma. Mendengar jeritanku, Mas Ario dan polisi berlari ke arahku. Mereka sama terkejutnya denganku. Polisi kemudian berusaha mengangkat mayat Teh Lisma yag diperkirakan sudah berada di lubang tersebut selama kurang lebih tiga hari dan mulai membusuk.

            Wajahnya tampak begitu menderita. Di bagian kepala tampak bekas hantaman benda tajam. Kami lalu membawa jasad Teh Lisma untuk diotopsi. Setelah otopsi dilakukan, pihak polisi menyerahkan jenazah kepada kami lalu kami menguburkannya.
Ketika kami ingin mengangkat jenazah, terjadi keganjilan. Jasadnya tidak bisa diangkat. Setelah tiga kali gagal, akhirnya Pak Kyai Fathullah meminta Mas Rio untuk membawa laki-laki itu. Mas Rio bertambah sedih karena ia tahu akan sangat sulit membawa tersangka pembunuhan adiknya. Tanpa disangka-sangka, dari kejauhan terdengar sirine polisi, ternyata Muzadi, kekasih sekaligus pembunuh adiknya datang dengan dikawal beberapa polisi.  Ia ternyata datang untuk melihat jenajah teh lisma untuk terakhir kali. Begitu melihat jasad Teh Lisma, laki-laki itu menangis menyatakan penyesalan terdalmnya dan tanpa sadar mengakui telah membunuh Teh Lisma karena dia kesal, Teh Lisma tidak bisa memberikan kemewahan lagi untuk dirinya. Pak kyai lalu meminta laki-laki itu untuk mengangkat jasad Teh Lisma. Subhanallah, jasad itu bisa diangkat dengan mudah. Laki-laki itu lalu menurunkan jasad Teh Lisma dan ketika jasad Teh Lisma sudah diturunkan, tiba-tiba keranda yang membawa jasad Teh Lisma terbang dan memukul kepala laki-laki itu dengan keras. Semua itu terjadi sampai berkali-kali. Lalu laki-laki itu terjatuh dan mati seketika. Melihat kejadian itu, kami beristighfar memohon ampunan untuk Teh Lisma dan laki-laki itu. Akhirnya, dengan do’a yang tulus dari orang yang hadir, dua jasad tadi dapat dimakamkan setelah beberapa kali mengalami kesulitan.
            Setelah pemakaman Teh Lisma, aku berdo’a semoga dosa-dosa Teh Lisma diampuni dan diberikan surga untuknya. Aku juga bersyukur telah dibukakan hatiku untuk melihat bahwa setiap perbuatan pasti ada balasnya. Dan sungguh balasan Allah itu benar-benar nyata.
            Teh Lisma, sungguh malangnya perjalanan hidupmu. Karena cinta, kau seperti itu. Karena cinta, kau menjadi sengsara. Dan karena cinta, hidupmu penuh penyesalan.
      ►◄

Jumat, 27 April 2012

pidato perpisahan


Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

........................
Yang sama-sama kita hormati Kepala .....
Yang sama-sama kita hormati, pengurus yayasan ....
Yang sama-sama kita hormati, Bapak dan Ibu dewan guru serta para karyawan yang namanya tak bisa saya sebutkan satu per satu, namun tak mengurangi rasa takzim saya kepada beliau semua.
Yang sama-sama kita hormati pula, Bapak dan ibu wali murid,
Sahabat-sahabat serta adik-adikku yang mudah-mudahan dimuliakan Allah SWT.

Marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat illahi robbi atas berkat rahmat dan karuniaNya, kita dapat berkumpul dalam acara Perpisahan Kelas IX tahun ajaran 2011/2012.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, kepada para sahabatnya, keluarganya, dan tak lupa kepada kita selaku umatnya, yang insya Allah akan selalu taat pada ajarannya.

Pada hari ini, saya mewakili teman-teman kelas IX menyampaikan rangkaian kata perpisahan di hadapan hadirin/hadirat sekalian.

Bapak dan Ibu guru yang tercinta,
Teringat dalam benak kami, ketika dulu kami memasuki SMP ..., kami diibaratkan sebuah gelas kosong, tak terisi air pengetahuan sedikitpun. Lalu bapak dan ibu guru menuangkan air berbentuk ilmu pengetahuan dan pembelajaran hidup yang bermakna  kepada kami dengan penuh kesabaran, penuh perhatian, penuh kasih sayang, dan tanpa pamrih. Semua itu dilakukan agar gelas kami terisi penuh oleh ilmu pengetahuan  serta pembelajaran hidup yang bermakna dan agar kami juga mampu mencapai apa yang kami cita-citakan serta dapat menghantarkan kami ke gerbang kesuksesan. Kami bersyukur karena kami dapat bertemu dengan orang-orang hebat seperti bapak dan ibu guru dan kami juga merasa bersyukur karena kami dapat menjadi bagian cerita di SMP .... ini.

Terima kasih atas semua jasa bapak dan ibu guru. Tanpa itu semua, kami takkan pandai seperti sekarang ini dan kami takkan mampu mencapai gerbang kesuksesan. Tak ada kata yang dapat kami sampaikan selain ucapan terima kasih dan doa semoga apa yang Bapak dan Ibu guru berikan, akan mendapatkan pahala yang setimpal dari Allah SWT.

Tak lupa pula kami memohon maaf atas semua kesalahan baik  kata atau perbuatan yang menyakiti hati Bapak dan ibu guru sekalian. Dan kami juga minta maaf karena kami belum bisa menjadi apa yang Bapak dan Ibu guru harapkan.

Untuk Sahabat-sahabatku yang tercinta, sekian lama kita merajut asa, banyak suka dan duka, banyak hal yang sudah terjadi dan semua itu sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan indah bagi kita semua. Sahabat, waktu telah menghantarkan kita pada satu titik pemahaman bahwa di dunia ini tak ada yang abadi.  Kini saatnya kita harus berjalan sendiri, melangkah mengikuti takdir yang telah tergariskan dalam ruang dan waktu yang berbeda, dan itu berarti perpisahan akan terjadi. Namun, perpisahan ini bukanlah akhir dari segala-galanya. Ini hanya sementara. kita berpisah hanya untuk mengejar mimpi dan cita-cita. Kelak, ketika kita sukses nanti, kita pasti kan bertemu kembali.  Sahabat-sahabatku tercinta, marilah kita terus menimba ilmu karena dengan terus belajar,  kita akan menjadi pemilik masa depan dan marilah kita sama-sama saling memaafkan. Jadikanlah semua hal yang terjadi di sini menjadi sebuah cerita indah yang  akan kita kenang sepanjang masa.

Untuk adik-adikku, kami pasti akan sangat merindukan kalian. Kami sangat bangga bisa memiliki adik-adik seperti kalian. Tetap semangat belajar dan jangan lupa, hormatilah selalu bapak dan ibu guru kita karena tanpa beliau semua, kita bukanlah siapa-siapa. Dan tak lupa, kami juga meminta maaf jika selama ini kami sering bercanda berlebihan hingga membuat hati kalian tersakiti. Jauh di lubuk hati kami, kami sangat sayang dengan kalian.

Bapak dan ibu guru serta adik-adikku yang tercinta
sekarang kami sudah sampai di pintu gerbang dan itu berarti sebentar lagi kami akan melangkah menuju gerbang selanjutnya, kami yakin, dengan berbekal gelas yang sudah terisi oleh  ilmu pengetahuan dan pembelajaran hidup yang bermakna yang telah bapak dan ibu guru berikan, kami akan mampu  bersaing dengan anak-anak dari sekolah manapun dan kami akan mampu menjadi yang terbaik dimanapun kami berada nanti.
Bapak dan ibu guru serta adik-adikku yang dirahmati Allah, doakan kami semoga apa yang kami cita-citakan dapat terwujud. Kenanglah semua hal indah yang sudah kita lalui bersama dan jadikanlah semua kenangan itu menjadi rangkaian cerita  indah yang akan kita kenang selama-lamanya dan Jadikan perpisahan ini menjadi perpisahan yang termanis dalam hidup kita sepanjang waktu.
Hadirin/hadirat sekalian yang dirahmati Allah..
Mungkin sampai di sini dulu sambutan dari saya, wakil kelas IX, yang benar itu hanya milik Allah semata dan yang salah itu hanya milik saya, manusia yang dho’if.

Aakhirul kalaaam, summassalaamu’alaikum, Wr.Wb.

PUISI UNTUKMU, IBU

             Hari ini, Jumat, 27 April 2012, aku merasa sakit hati, kesal, benci, semua menjadi satu. Saat itu, aku sedang membicarakan rencanaku untuk pergi jalan-jalan dengan murid-muridku. Aku merasa berat kalau tidak ikut karena pertama, aku wali kelas, otomatis aku punya tanggung jawab dan kedua, teman-temanku begitu mengerti aku. Mereka menentukan hari dan tanggal disesuaikan apakah aku bisa atau tidak. Dan waktu itu aku menyatakan bisa pada tanggal 24-25 Juni 2012 karena saat itu, salah satu keponakanku menyanggupi untuk menjaga ibuku. Namun ternyata, setelah panjer sudah dibayar, keponakanku itu membatalkan. Aku kesal sekali. lalu tadi, aku mencoba untuk meminta tolong tapi belum selesai aku bicara, kakakkku, Hana, bilang “ Bahriah aja suruh nginep di rumah. Saat itu aku sempat melihat mukanya yang tampak jelas sekali kalau dia tidak mau dititipkan ibuku. Astaghfirullah... aku sedih benar-benar sedih. Aku lalu mengelus-elus pipi ibu dan tak terasa air mata membanjiri pipi dan ibukupun ikut menangis.
                Ini adalah kejadian menyakitkan sekaligus menyedihkan untuk kesekian kalinya. Kemarin, ketika UN SMP berlangsung dan kebetulan aku menjadi panitia. Karena aku harus berangkat pagi untuk merapikan ruangan, akhirnya aku memutuskan untuk menitipkan ibuku di rumah kakakku, di sebelah rumahku. Sebelum berangkat, aku memberikan nasi uduk, baju ganti, dan pampers tapi saat itu, aku tidak mau menemui ibu  karena beliau pasti akan menangis. Pukul 13.50, aku sampai di rumah karena ibuku di rumah sebelah, aku lalu membawa lauk ke rumah kakakku itu. Di sana, aku melihat ibuku sedang tidur di lantai, aku sedih sekali dan yang membuat aku makin sedih, ternyata, ibuku tidak dimasakin lauk. Kakakku tidur dan keponakanku terus melihat televisi. Aku lalu menyuruh keponakanku untuk menyuapi ibu karena bajuku sudah tidak nyaman, aku ingin mengganti baju dulu. Mendengar suaraku, ibuku jadi terbangun. Begitu melihat diriku, beliau langsung menangis dan meminta pulang. Akhirnya, aku memutuskan untuk membawanya pulang. Aku, kakakku, dan keponakanku memindahkan ibu ke rumahku. Dan di depan ibuku, kakakku menyuruh aku untuk tidak memindahkan ibu ke rumahnya lagi. dia bilang dia yang akan memandikan ibu pagi harinya. Dia lalu pulang dan ku lihat ibuku menangis lagi. ketika aku tanya tentang penyebab kesedihannya, beliau bilang bahwa beliau merasa dibuang, tidak diperhatikan. Aku lalu menangis, aku tahu ibu merasa seperti itu karena perlakuan kakakku.
                Sejak penitipan itu, ibu tidak mau kutinggalkan lagi. bahkan ke kamar mandipun beliau mau ikut. Lucu  plus sedih. Lucu karena waktu itu aku bilang, “Ibu, aku mau ke situ dulu ya,” beliau langsung menjawab sambil memegang tanganku dan menangis “Ikut.” “Aku tertawa dan aku bilang” Orang mau buang air, emang mau ikut juga kalau ke kamar mandi? Bau tau hehhe...” mendengar jawabanku ibuku pun ikut tertawa. Lalu aku mencium dirinya dan sambil menahan air mata, aku mengatakan bahwa aku tidak akan menitipkan atau meninggalkannya lagi. kami pun lalu berpelukan sambil menangis.
                Aku sadar, ini adalah cobaan yang sangat berat untukku. Semua kakakku menyerahkan ibu kepadaku. Mereka tidak mau mengurus ibuku. Untuk bulanan pun, mereka tidak memberikan bantuan. Padahal mereka tahu, masukan terbesarku adalah di bimbel tapi karena ibuku meminta aku untuk berhenti, akhirnya dengan bismillah, aku memutuskan untuk berhenti. Aku tahu, keuanganku pasti morat-marit jika tidak di bimbel namun aku juga tidak mau egois. Aku tidak mungkin meninggalkan ibuku setiap hari dari pagi sampai malam karena kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk ditinggal. Sebelum keluar dari tempat bimbel, aku sudah mencoba mencari pembantu tapi ternyata pembantuku itu tidak amanah, dia tidak menjaga ibuku dengan baik. lalu aku meminta tolong ojekku untuk menjaga ibu dan ternyata, sama. Semua kakakku pun seperti itu, mereka hanya bisa mengeritik, ngeritik, dan ngeritik. Aku benci bahkan muak dengan ulah mereka. kadang aku berpikir, kenapa si Allah tidak menegur mereka? kenapa si orang-orang seperti mereka yang sudah menelantarkan ibu hidupnya masih terus bergelimangan harta, pekerjaannya makin keren, rezekinya makin lancar? Kadang kalau aku berpikir begitu, hatiku semakin panas tapi kalau sudah panas, aku mencoba untuk berpikir positif agar hatiku tidak makin panas.
                Ku tidak tahu sama sekali seperti apa perasaan semua kakakku yang perempuan. Mereka pernah mengetahui, ibuku menangis karena meminta jus. Ya..walaupun Cuma jus tapi karena uangku hanya cukup untuk membeli pampers, pampers, dan pampers. Maaf, ya, Bu. sejujurnya, aku ingin sekali mengabulkan semua apa yang engkau mau namun saat ini, aku belum bisa. Saat ini aku sedang berusaha keras untuk menjadi orang sukses, doakan aku ya, Bu agar aku mendapat suami yang banyak uang, kaya, baik, penyayang, pelindung kita berdua, dan punya segala-galanya karena kalau itu terwujud, aku akan berhenti mengajar, aku akan memfokuskan diri untuk berbakti kepada suami dan engkau pastinya. Ibu, aku sangat, sangat, sangat sayang padamu. Tetaplah tersenyum karena senyummu dapat menenangkan hatiku dan juga dapat menguatkan aku di saat paling sulit sekalipun.
                Ibu, aku tahu Engkau pasti sedih karena Engkau pasti tidak menyangka akan mengalami hidup seperti ini. Di saat orang sedang menikmati keindahan masa-masa tuanya, di saat itu, Engkau malah merasakan kebalikannya. Engkau jangan sedih karena aku di sini selalu menemanimu, ku takkan meninggalkanmu, kita akan selalu bersama mengukir kisah bahagia. Ibu, terima kasih ya karena Engkau telah memilih aku untuk menjaga hari tuamu. Walau sekarang, kita hidup sederhana, hanya bermodalkan gaji kecil, namun, kita harus yakin bahwa Allah takkan membiarkan kita dalam kemiskinan, kesengsaraan, dan Allah pasti akan mencukupi apa yang kita butuhkan. Ibu. Jadikanlah semua ini sebagai jembatan untuk menuju kepada kebahagiaan. Jangan kita jadikan semua ini sebagai musibah. Marilah kita mencoba tuk ikhlas menghadapi semua ini.
                Ya Allah, hamba tahu Engkau pasti punya maksud yang baik di balik semua ini. Tolong jangan Engkau biarkan hamba menjadi manusia durhaka, bantulah hamba menata emosi hamba, bantulah hamba tuk menggapai apa yang hamba inginkan, dan hamba mohon izinkanah ibu hamba tuk melihat pernikahan hamba dan dapat merasakan kebahagiaaan di masa-masa tuanya tapi jika Engkau mengambil ibu hamba sebelum itu terjadi, hamba ingin ibu hamba pergi dalam keadaan husnul khotimah, mendapat syafaat, dan pergi dengan senyuman dan di pangkuan hamba. Amiin
                Ibu, malam ini aku ingin menulis sebuah puisi untukmu
                Ibu, malam semakin larut namun kita berdua tak jua memejamkan mata
Rasanya malam ini, kita begitu berat tuk memejamkan mata
 engkau mengatakan agar aku tidak memejamkan mata
Aku tertawa saja dan terus saja mengelus-elus wajahmu
Sambil menatap dan memegang tanganku begitu kencang
Engkau mengatakan kalau aku dan engkau tertidur, engkau takut kalau tidur kita akan berkepanjangan
Entah apa maksud engkau namun tiba-tiba kesedihan menyeruak di dalam hati
Aku tak tahu,  sungguh
Saat itu kami terus bercanda dan bercanda
Ibu aku bahagia sekali melihat keceriaanmu
Engkau adalah penguat dalam hidupku
Aku tak tahu apa yang akan terjadi
Di masa-masa sulit ini kau tak mendampingiku
Terima kasih ibu karena kau begitu sayang padaku
Maafkan aku , Bu atas semua kata dan  perbuatan yang melukai hatimu
Sekali, dua kali, bahkan berulang-ulang
Dan pintu maafmu pun berulang-ulang engkau berikan
Ibu, terima kasih tuk semua itu
Sebagai wujud cintaku padamu
Ku kan berusaha keras tuk membahagiakanmu
Ibu, semoga kau bahagia hidup bersamaku
Ibu, aku sangat sayang padamu  
 (satu kisah dari kehidupan sahabatku tercinta. semoga ini bisa mewakili perasaanmu)

Selasa, 17 April 2012

JODOH

Kalau membicarakan masalah jodoh, tentu itu sangat berkaitan dengan perasaan. Setiap orang pasti ingin mendapatkan jodoh. Allah menjanjikan kepada umatNya bahwa jodoh itu akan datang di saat yang tepat. Kapan saat itu tiba? Wallahu a’lam
            Masalah jodoh adalah urusan Allah dan jodoh itu bisa datang tiba-tiba. Banyak orang yang belum menemukan jodohnya berusaha mencari bahkan banyak pula yang menggunakan jasa orang pintar, astaghfirullah. Ada yang rela dimandikan dengan kembang tujuh rupa, ada pula yang percaya bahwa penyebab belum datangnya jodoh karena ada guna-guna dari orang lain, na’udzubillahi min dzalik.
            Sungguh itu semua adalah perbuatan dosa. mereka tidak sadar, kalau mereka sedang diperbudak oleh setan. Andai saja, orang-orang yang belum menemukan jodoh dapat berpikir rasional dan percaya bahwa Allah pasti akan memberikan jodoh terbaiknya kepada kita. Kita hanya perlu menyakinkan diri kita agar kita tidak salah dalam melangkah. Sekuat apapun usaha kita mendapatkan jodoh, kalau menurut Allah, kita belum siap, maka Allah tidak akan mendatangkan jodoh untuk kita. Jodoh ditentukan oleh keadaan kita pada saat itu. Allah lah yang MahaTahu apakah kita sudah siap atau belum. Apakah sekarang atau esok. Apakah yang ini atau yang itu.
            Banyak orang yang bertemu jodohnya tanpa diduga-duga. Ada yang bertemu di FB, di angkot, di tempat perkawinan, dan ada pula yang dikenalkan oleh seseorang. Itulah jodoh, bisa datang kapanpun, dimanapun, dan dengan siapapun. Jangan kita menunggu datangnya jodoh, YAKINLAH jodoh kita akan datang di saat yang tepat dan semua itu hanya Allah yang tahu. Janganlah kita memaksa Allah agar menyegerakan jodoh kita karena hanya Allah yang tahu kapan, dimana, dan dengan siapa kita berjodoh. Sekarang ini kita hanya bisa berdoa dan mengisi hari-hari kita dengan hal-hal positif, sibukkan diri kita dengan sesuatu yang dapat membawa kita pada sebuah KESUKSESAN.




Minggu, 01 April 2012

IKHLAS

Kehidupan ini memang tak selamanya indah. Banyak harapan-harapan yang tak terwujud bahkan kadang kita kadang mendapatkan apa yang tidak kita harapkan. ketika harapan itu terwujud bahagia kita rasa. Namun, ketika harapan itu tak terwujud, rasa kesal, sebal, dan benci menjadi satu. 
itu semua terjadi karena diri kita sendiri. seharusnya dalam menjalani hidup, kita harus memperbanyak  mempersiapkan diri kita untuk sebuah kegagalan. memang tak ada satu pun orang yang mau gagal tapi itulah hidup. Tidak semua apa yang kita usahan, kita harapkan, kita minta itu terwujud.  Kalau kita sudah mempersiapkan sebuah kegagalan, ketika kegagalan itu menghampiri, kita tentu tak akan terlalu kecewa dan bersedih. kegagalan itu dipersiapkan setelah kita berusaha dengan gigih, shalat, berdoa, setelah itu barulah tawakkal. Tawakkal artinya berserah diri menerima keputusan dariNya. hanya diriNya lah yang paling tahu mana yang terbaik untuk kita.kalau kita sudah tawkkal, hasil baik atau buruk akan kita terima. 
Memang untuk melakukan itu tidak mudah, butuh kebesaran hati, kebesaran jiwa. Awalnya memang sangat sulit namun jika kita berusaha pasti kita akan bisa. Jika kita sudah bisa melakukan itu, maka IKHLAS akan terpatri dalam diri kita. Dan jika IKHLAS itu sudah kita miliki, ketenangan batin pun akan menyertai. 

Sabtu, 12 November 2011

UNGKAPAN

hidup itu adalah sebuah misteri. kita tak kan tahu apa yang akan terjadi pada diri kita nanti. saat ini mungkin kita sedang menikmati indahnya hidup tapi esok, belum tentu. banyak hal yang tak bisa kita perkirakan. hanya Allah yang tahu karena Ia adalah penentu jalan hidup manusia. lalu apa yang harus kita lakukan? 
kalau menurut saya, jalani semua yang terjadi pada diri kita. kita juga harus ingat ketika kita sedang senang, jangan lupa menghibur orang-orang yang sedih. ketika kita sedang berlimpah dengan kekayaan, jangan lupa, di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan. dan syukuri apa yang sudah kita dapatkan.
kalau menurut kalian, bagaimana?

Senin, 19 September 2011

artikel tentang hidup

HIDUP ADALAH PILIHAN.....
di setiap pilihan itu hadir sebuah risiko. tak ada pilihan yang tak berisiko. persiapkan diri kita untuk selalu kuat mengatasi hidup yan sudah kita pilih. karena risiko yang kan kita jumpai tak selamanya indah. banyak orang memilih dengan tepat dan banyak pula yang salah dalam memilih. dalam membuat pilihan, tidak cukup hanya satu hari atau dua hari. pilihan hidup harus benar-benar dipikirkan agar tidak salah dalam memilih. perbanyak shalat dan membaca al-Quran. yakinlah dengan selalu meminta petunjuk kepada Allah, pilihan kita tidak meleset. Allah kan memberikan pilihan yang paling tepat. apa yang sudah Allah pilihkan, itu adalah yang terbaik untuk kita. 
salah satu pilihan hidup yang Allah berikan adalah ujian. kasih sayang Allah dapat dilihat dari seberapa besar ujian yang Allah berikan kepada kita. semakin besar ujian itu, semakin besar pula kasih sayang Allah kepada kita. jangan pernah kita merasa ujian itu adalah wujud kebencian Allah kepada kita karena jika kita ikhlas menjalani, insya Allah pahala kan kita dapatkan. 
sebesar apapun ujian itu, yakinlah semua itu kan mampu kita hadapi karena Allah mengatakan bahwa Allah tidak akan membebani makhluknya melebihi batas kemampuannya. jika kita ikhlas, insya Allah beban yang kita rasa berat itu akan semakin berkurang...berkurang...dan berkurang...^_^

hembusan angin maha dahsyat
memporakporandakan hati ini
hati yang selalu diam ketika tersakiti
hati yang selalu berusaha untuk ikhlas
hati yang kini tak dapat terkendali

kawan
salahkah diri ini
ketika amarah tak dapat terbendung lagi?
salahkah diri ini
ketika hujan tangis kembali hadir?
salahkah diri ini ketika caci maki kembali terdengar?

kawan
tak bisakah diriku mendapatkan semua apa yang ku harapkan?
salahkah diriku jika ku ingin bahagia itu?
ku hanya manusia biasa
ku tak mampu selalu mengalah
ku tak mampu selalu menekan emosi di hati
ku tak mampu menutupi menyimpan amarahdi hati

kawan
maafkan diri ini
jika ku tak mampu menjadi sahabat yang engkau harapkan
sebelum kau pergi menjauh
dengarkan satu pintaku
tolonglah mengerti perasaanku
yang selalu tersakiti

jujur....
ku tak ingin kau menjauh dariku
ku ingin kau tetap menjadi sahabatku
yang kan selalu hadir menemaniku

kini....
ku tak peduli lagi dengan derita yang ku rasa
ku tak peduli lagi dengan segala hal yang melukai hati
ku hanya ingin kau hadir di hidupku
menghiasi hari-hariku

kawan
dengarkanlah permintaan terakhirku ini...:(

Sabtu, 04 Juni 2011

pusing

alamaaaaaaaaaaaaaaak, malam ini benar-benar menjadi malam yang membetekan. bayangkan, di saat semua orang sedang bermimpi indah, mataku ini tak jua terpejam. mikirin apa coba? aku juga tidak tahu.
yang jelas, mata ini sudah membuatku kacau balau, padahal besok harus berangkat pagi, gimana ini? pusiiiiiiing...

Minggu, 24 April 2011